Handicap gambling_Indonesian Lottery_Know the rules of Texas Hold'em_Baccarat Pot_365 Score Network

  • 时间:
  • 浏览:0

HHow to play baccaratidup beHow to play baccaratrumHow to play baccaratah tangga memang taHow to play baccaratk selalu mudah, tak selalu mengalir begitu saja. Mental yang matang dibutuhkan agar pernikahan tak jadi sarang drama. Karena itu, jangan terburu-buru melakukannya. Daripada malah menyesal selamanya?

Lunasi dulu 6 hal di atas sebelum kamu resmi jadi suami/istri. Daripada belum siap, lalu menyesal nanti?

Rizki Auliadi yang sukses di Tokopedia dengan gantungan kuncinya

“Lho, kok sendiri? Kenapa nggak sama suaminya aja?”

Sebelum menikah secara resmi, manfaatkan benar waktumu saat ini untuk belajar masak. Toh nantinya kamu dan pasangan tak bisa selalu makan di luar. Mulai dari masakan Asia, Western dishes, sampai sajian ala Ibunda, cobalah buat satu-satu dengan serius. Memasak adalah soal ketekunan. Tak masalah jika di masa-masa awal kamu banyak menemui kegagalan.

Cara tercepat untuk melatih dua kualitas ini adalah dengan merintis bisnis. Kamu akan belajar untuk tetap memperlakukan orang sebaik-baiknya walau hati sedang letih-letihnya. Kamu akan belajar sabar ketika karyawan sedang kambuh sifat malasnya. Tanpa sadar, ini akan menjadikanmu jauh lebih dewasa.

Yakin kamu sebenarnya butuh lipstik yang kemarin dibeli?

Tak harus membangun bisnis yang “wow” dan rumit. Kamu bisa mulai merintis bisnis kecil-kecilan di berbagai online marketplace yang ada di Indonesia. Salah satu yang paling aman dan terpercaya adalah Tokopedia. Di sini kamu bisa menjual hampir apa saja, yang penting produkmu banyak manfaatnya — dan reputasimu terjaga. Sudah banyak kok seller yang sukses dengan produk-produk sederhana seperti organizer, perhiasan dari tepung, dan gantungan kunci. Tuh… tunggu apalagi?

Acara jalan-jalan yang sifatnya spontan juga sudah tak mungkin lagi dilakukan ketika kamu sudah berstatus suami/istri. Karena kesibukan masing-masing, aktiHow to play baccaratvitas liburan harus dijadwalkan sejak dini. Sementara itu, tak mungkin juga seenaknya traveling sendirian. Maklum, orang lain pasti komentar…

Serius sekolah! (Kredit: Pribadi – Hardya Pranadipa)

Ada saja orang-orang luar biasa yang berani menikah sebelum mapan. Tapi, keputusan berani ini bukan untuk semua orang. Menunda pernikahan sampai kamu mapan secara keuangan adalah opsi yang lebih aman. Karena itu, wajib hukumnya untuk belajar memapankan kondisi finansial dari sekarang.

Saat sudah menikah nanti, kamu akan paham pentingnya manajemen hati. Bukan hanya manajemen hati sendiri, tapi juga yang dimiliki pasanganmu sehidup-semati. Pernah patah hati sampai hampir tak percaya cinta lagi akan membuatmu lebih bijak dalam berlaku. Karena tahu sakitnya patah hati, kamu tak akan mau melakukan kekurangajaran yang sama pada pasanganmu saat ini. Karena itu, sebelum resmi menikah nanti, puaskan dirimu patah hati. Percayalah, suami/istrimu di masa depan akan berterima kasih karena ini.

Yang terpenting, saat menikah nanti kamu sudah punya masakan andalan. Kamu bisa menciptakan kebahagiaan di seluruh penjuru rumah hanya dengan meracik masakan. Terdengar menyenangkan, bukan?

Sudahkah kamu memisahkan rekening gaji dan rekening tabungan? Sudahkah sebagian tabunganmu dialihkan untuk investasi kecil-kecilan? Sudahkah kamu punya dana darurat yang sanggup menghidupi dirimu sendiri untuk paling tidak 3 bulan? Kalau kondisi keuanganmu masih bolong sana-sini, bisa-bisa justru jadi beban keluarga besar saat sudah jadi suami/istri nanti.

Udah bisa nyumbang berapa tiap bulannya untuk keluarga?

Memang, tak semua pernikahan bisa dipukul rata. Ada juga orang yang walaupun sudah menikah tetap bisa traveling sepuasnya. Tapi di antara pasangan muda yang sudah menikah, berapa sih yang seberuntung ini? Jumlahnya pasti sedikit sekali.

Duh, pusing! Daripada ngebet jalan-jalan tapi selalu terhalang saat sudah menikah nanti, lebih baik puaskan hasratmu untuk traveling selagi masih sendiri.

“Kapan nikah?”

Ketika masih mahasiswa, kita sering berangan-angan untuk segera menjadi sarjana dan menikah saja. Tapi percayalah, kita akan merindukan masa-masa sekolah setelah hidup berumah tangga. Ternyata duduk di kelas dan memperhatikan dosen mengajar adalah aktivitas yang mengasyikkan. Ternyata, menjadi pintar itu menyenangkan.

“Ih, istrinya sibuk kerja suaminya malah jalan-jalan terus.”

Menikah tak perlu terburu-buru. Selamati teman-temanmu yang sudah menikah lebih dulu, tapi jangan anggap kehidupan lajang sebagai petaka buatmu. Justru, manfatkaanlah waktu yang ada saat ini untuk membenahi diri. Rapikan kondisi finansial, seriusi pendidikan, dan tumbuhkan mental untuk selalu ciptakan peluang di tengah kesulitan.

Jangan main-main soal pendidikan. Kecerdasan tak akan sia-sia dimakan zaman. Untuk mempertahankan pernikahan, kamu juga butuh otak yang pintar. Untuk merawat anak-anak yang cemerlang, orangtuanya harus punya kepandaian. Dan kalau tidak di sekolah, di mana lagi kemampuan ini bisa kamu dapatkan?

Saat sudah menikah nanti, tak mungkin segalanya berjalan sesuai rencana. Pasti ada saat-saat di mana cobaan datang tak disangka-sangka. Inilah kenapa mulai sekarang, penting untuk belajar bersabar. Demikian juga untuk menanamkan semangat ciptakan peluang di tengah-tengah kesulitan”. Maklum, tak boleh ada frasa “gampang menyerah” di institusi pernikahan.

Entah serius atau bercanda, orang semakin sering saja bertanya. Padahal nikah itu tak cuma butuh niatan saja. Kesiapanmu sebagai calon suami/istri juga sama pentingnya.

“Kok dia traveling terus sih? Rumahnya nggak diurusin?”

Sudah bisa nabung berapa banyak bulan ini?